Pertanian Organik

Pertanian Organik

Pertanian organik adalah sebuah terobosan dalam dunia pertanian yang mulai diterapkan, sebagai wujud lompatan kepedulian industri terhadap kesehatan konsumen.

Tentu akan menjadi menyedihkan apabila setiap makanan ataupun sayuran yang masuk kedalam tubuh mengandung zat kimia yang notabenenya memiliki potensi membahayakan.

Hal itulah yang menjadi landasan gerakan sayur organik saat ini. Lalu, apa saja perbedaan sistem bertani organik dan anorganik? Untuk Lebih jelasnya, simak ulasan mengenai pertanian organik di bawah ini.

Organik dan Anorganik

Sebenarnya perbedaan antara sayuran organik dan anorganik itu sangat besar. Apabila dilihat dari skala produksinya, sayuran organik membutuhkan modal produksi yang lebih besar. Meski begitu, hasil yang akan didapatkan juga lebih bagus secara kualitas.

Pupuk organik hanya menggunakan pupuk kandang serta pupuk organik cair saja. Sedangkan anorganik menggunakan pupuk kimia serta pestisida untuk menjaga tanaman dari hama.

Hama pada kultur sayur organik sangatlah wajar, maka dari itu dibutuhkan green house berukuran cukup besar, untuk menjaga tanaman dari hama serta penggunaan pestisida organik.

Hal tersebut membuat harga produksi sayuran organik lebih mahal ketimbang anorganik. Di Indonesia sendiri sudah banyak petani yang memulai budidaya sayuran organik.

Hal tersebut guna mengincar segmen yang hanya meminati sayuran jenis organik saja.

Walaupun jumlahnya belum begitu banyak, tapi pertanian organik memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan di dalam negeri.

Pupuk Organik

Kalau bicara soal pupuk, tentu Anda akan mengingat pupuk NASA (Natural Nusantara). Pupuk ini mengandung berbagai zat yang sangat diperlukan oleh setiap tumbuhan dan tentunya menggunakan bahan organik.

nasa pupuk organik terbaik untuk pertanian
Pupuknaturalnusnatara.net

Tanaman akan sangat berpengaruh pada setiap nutrisi yang masuk. Hal tersebut yang membuat orang-orang sedikit takut.

Apabila menggunakan pupuk kimia terus-menerus, ada kemungkinan zat hasil rekayasa kimia ini ikut termakan oleh manusia.

Itu baru soal pupuk, bagaimana kalau yang termakan adalah pestisida? Apabila konsentrasinya cukup tinggi ada kemungkinan akan menimbulkan efek yang berbahaya bagi manusia jika terpapar dalam jangka yang panjang.

Selamatkan Tanah

Ketika seseorang menggunakan pupuk anorganik, tanah tempat pupuk ditebar akan mengalami penurunan kualitas.

Hal itu mungkin tidak mengkhawatirkan untuk saat ini, akan tetapi dalam jangka panjang tanah tersebut akan menjadi tidak ideal untuk ditanami sayuran.

Mengkhawatirkan? Tentu saja, apabila seluruh tanah petani mengalami penurunan kualitas besar kemungkinan mereka akan rehat sejenak atau mungkin cukup lama untuk mencari lahan yang baru.

Niat swasembada pangan justru bisa mengalahkan kelangkaan pangan. Efek lanjutan dari kejadian tersebut pastinya adalah meningkatnya harga bahan pokok akibat langkanya barang.

Memang anda tetap dapat memperbaiki tanah tersebut dengan cara menyelimutinya dengan kotoran sapi kemudian didiamkan selama kurang lebih 2 tahun.

Pastinya itu adalah harga yang mahal untuk dibayar apabila tanah tersebut merupakan mata pencaharian utama bagi si petani.

Tantangan yang Dihadapi

Pertanian organik memiliki beberapa tantangan untuk dapat bertahan menjadi salah satu madzhab pertanian di Indonesia.

Apalagi jika membandingkan dengan trend pertanian saat ini yang hanya mementingkan hasil serta kecepatan tumbuh.

Produktivitas kultur organik lebih rendah daripada non-organik, hal tersebut memunculkan polemik dimana para petani menolak melakukan budidaya dengan cara organik apabila harga yang diterapkan masih saja sama.

Problem semacam ini menjadi ganjalan paling signifikan dari perkembangan pertanian dengan metode organik di Indonesia.

Diukur dari permintaan pasar, peminat sayur organik cukup banyak tetapi hal itu belumlah cukup mengingat produksi besar sayur organik masih jarang di Indonesia.

Sertifikasi Produk Organik

Mau tak mau, apabila ingin produk anda mendapatkan label organik maka diperlukan sertifikasi guna meyakinan masyarakat bahwa itu merupakan produk pertanian organik.

Namun, saat ini belum ada lembaga yang mengurusi soal hal ini. Tentunya ini berkaitan dengan produk makanan dan pertanian dalam satu jangkar.

Kemungkinan hal tersebut yang membuat pemerintah bingung menentukan sayur organik akan masuk pada sektor yang mana.

Inovasi dan Penerapan Teknologi

Perlunya inovasi serta penerapan teknologi pertanian dalam prakteknya merupakan suatu hal yang harus disadari terutama oleh pemain pada sektor pertanian.

Boleh dibilang perkembangan Indonesia dalam bidang pertanian itu cukup tertinggal.

Hal tersebut tentu berkaitan dengan penggunaan teknologi pertanian yang masih belum merata. Kemungkinan karena proses kampanye teknologi pertanian kurang bagus, sehingga masyarakat kurang tertarik untuk berinvestasi kesana.

Disadari ataupun tidak, kenyataanya penerapan teknologi pertanian dengan tepat akan memacu kualitas produksi.

Hal itu telah dilakukan oleh negara Belanda dimana dengan lahan yang kecil mereka mampu menghidupi rakyatnya.

Pertanian organik ataupun non organik, akan lebih baik jika penerapan teknologi benar-benar dilakukan secara jangkap.

Besar kemungkinan negara dengan jumlah petani yang banyak seperti Indonesia, akan bisa bersaing dengan negara-negara maju.

Organik dan Hidroponik

pertanian hidroponik organik

Salah satu contoh penerapan pertanian organik adalah hidroponik. Organik dan hidroponik memiliki keterkaitan satu sama lain. Anda hanya perlu mengganti pupuk ABmix yang digunakan dengan pupuk organik cair.

Hal tersebut akan mengubah secara keseluruhan produk menjadi organik, apabila sistem yang digunakan adalah hidroponik. Seperti yang anda ketahui sistem hidroponik jarang menggunakan pestisida kimia.

Tentunya hal itu disebabkan pestisida yang disemprotkan akan jatuh ke aliran air menuju ke tandon.

Ada kemungkinan munculnya zat asing dalam tandon dapat merusak konsentrasinya. Lantas pestisida yang dipakai kebanyakan memang pestisida alami.

Melihat potensi besar teknologi hidroponik, ada baiknya kampanye soal hidroponik dan teknologi pertanian lainnya segera dilakukan.

Sebab suatu saat, Indonesia akan tertinggal terlalu jauh dari negara tetangga apabila terus nyaman pada fase tradisional saja.

Harga Sayur Organik

Kalau bicara soal harga, maka pertanian organik akan memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan anorganik. Tentu saja sebab hasil kebun organik,  biasanya memiliki kualitas yang lebih baik.

Harga sayuran organik akan lebih tinggi dibandingkan non-organik. Hal tersebut dipengaruhi oleh harga produksi yang berbeda serta segmen sasaran kedua pasar tersebut juga dapat dibilang berbeda.

Untuk pencinta sayur organik pasti akan rela merogoh kocek sedikit lebih dalam guna mendapatkan manfaat dari sayuran organik. Apalagi untuk mereka yang biasa hidup di luar negeri, pasti sayur organik akan menjadi buruan pertamanya.

Perbandingan harganya dapat dibilang cukup besar. Bisa saja sagu jenis sayuran terpaut hingga 2 ribu rupiah per kilogram.

Sebuah harga bukanlah masalah apabila, segala macam urusan produksi hingga distribusi dapat dijamin waktu serta kualitasnya.

Nah, hal tersebut masih menjadi PR untuk Indonesia sebab negara ini masih belum mampu membuat sebuah sistem pertanian organik yang mendukung.

Potensi Cerah

Suatu saat, indonesia dan dunia akan mengalami krisis yang diakibatkan oleh kebiasaan petani dalam bertani secara cepat dan hasil melimpah tanpa memikirkan kesuburan tanah.

Saat itulah mereka akan menyadari bahwa sistem baru memang benar dibutuhkan adanya.

Menakar masa depan budidaya sayuran organik. Tentu Anda akan optimis terhadap perkembangannya, sebab hampir tidak ada nilai negatif dalam penerapan sistem tersebut.

Meskipun di Indonesia sendiri masih sedikit, namun pada masa mendatang kemungkinan besar orang akan beralih menuju ke sayuran organik karena menyadari manfaatnya.

Ketika sudah hadir lembaga yang akan menjadi tempat yang  memberikan ukuran baku tentang produk organik di Indonesia, rasanya tak lama bagi indonesia untuk beradaptasi.

Sudah sepatutnya semua orang berpikir mengenai masa depan. Sebab setiap tanah yang digunakan sebagai lahan pertanian saat ini, memiliki kontribusi besar sebagai mesin pada berputarnya roda pangan sekaligus roda ekonomi.

Pertanian organik punya kesempatan untuk menjadi penyelamat jangka panjang di Indonesia. Terlebih lagi mengingat petani di negeri ini masih belum menerapkan sistem tersebut sebagai sistem tanam pada kebun mereka.

Pengembangan

Perlu hadirnya sebuah dorongan besar dari pemerintah untuk memberikan contoh nyata pada masyarakat bahwa pertanian organik pun dapat memberikan manfaat finansial yang besar.

Dengan bantuan pemerintah, ada kemungkinan para petani lokal akan mendapatkan kesempatan baik secara ilmu maupun secara finansial. Kemungkinan ada banyak orang yang berminat di bidang tersebut namun belum ada modal.

Dengan hadirnya pemerintah sebagai jalan melalui kelompok tani, sepertinya tidak mustahil bahwa masa depan pertanian jenis organik akan cerah di Indonesia.

Kalaupun dijalankan dengan benar, dalam 5 tahun kedepan Indonesia akan go organic.

Memang tidak mudah mengubah mindset petani yang sudah terbiasa menggunakan pupuk serta pestisida kimia. Hal itu membuat para pak tani ternina-bobokan oleh enaknya panen cepat hasil melimpah.

Padahal keselamatan tanah serta ladangnya di masa depan menjadi barang taruhan yang terus berkurang setiap harinya. Akan tetapi kampanye untuk go organic, memang tak semudah itu. Perlu kerjasama semua pihak terkait.

Perlunya penyampaian yang tepat dari pemerintah pada saat penyuluhan, untuk menyadarkan betapa perlunya proses pembenahan sistem pertanian saat ini.

Organik Itu Hak Semua Orang

Pertanian organik pada dasarnya hanya merupakan pertanian biasa yang memanfaatkan bahan alami sebagai sumber nutrisinya dan menghindari bahan kimia sintesis dalam produksi setiap produknya.

Sistem ini memiliki hasil produk pangan yang bagus serta sehat. Dalam jangka panjang sistem organik akan menyelamatkan para petani dari krisis lahan.

Tapi perlunya sebuah pengertian bahwa makna dari pertanian organik bukan saja perlu dilakukan kepada petani. Petani hanyalah ujung tombak eksekutor yang mana digerakan oleh pasar serta konsumen.

Apabila ingin merubah secara besar-besaran, maka disarankan untuk membuat propaganda sayuran organik sebagai pilihan bahan pokok. Tentu saja itu semua perlu dibarengi dengan munculnya sebuah produk organik yang terjamin.

Dengan sebuah lembaga khusus, bukan mustahil masyarakat akan kepincut. Mengingat seberapa besar manfaat dari produk organik.

Tidak ada salahnya masyarakat disadarkan untuk mulai berfikir panjang mengenai makanan sehat, petani, produksi, pupuk serta kualitasnya.

Kalau sampai muncul gerakan besar semacam itu, meningkatnya jumlah petani organik adalah sebuah kepastian yang tak perlu terlalu lama ditunggu.

Bahkan setiap petani pasti akan berlomba-lomba untuk menjadikan kebunnya sebuah lahan yang memproduksi sayuran organik.

Apapun yang akan terjadi kedepan diharapkan seluruh elemen masyarakat menyadari betapa krusialnya hal tersebut. Jangan sampai krisis pangan yang menyadarkan kita untuk mulai menyelamatkan tanah.

Tentunya akan lebih baik apabila pertanian organik disatukan menggunakan teknologi pertanian yang tepat, demi hasil yang memuaskan.

Dengan demikian tak ada lagi alasan bahwa petani organik produktivitasnya tak lebih banyak daripada non organik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *